Sejarah Masjid


Masjid Bambu KH Abdul Qadir Hasan merupakan masjid pertama di Kalimantan Selatan dengan bahan ornament yang terbuat dari bambu.
Konsep ide pembuatan masjid yang diinisiatori oleh Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor atau yang akrab disapa Paman Birin ini terinspirasi dari sebuah masjid tertua di Kalimantan Selatan, masjid yang menjadi symbol peradaban pertama masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan yaitu Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin.

Tidak hanya itu guna menambah keunikan Masjid Bambu pertama di Kalimantan tersebut dipadukan dengan konsep “Balanting Bambu” yaitu andalan wisata Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kalimantan Selatan bahkan menjadi andalan Wisata Nasional menyusuri sungai Amandit. Bentuk dan p[ola sungai yang berliku-liku memiliki jeram yang menantang dan berbatu sehingga bentuk sungai yang unik ini identik dengan pola kehidupan umat manusia yaitu ada tantangan dan godaan serta suka dan duka.
Lanting bambu sebagai alat penuntun dan penolong seseorang dalam melalui sungai yang berliku, berjeram, deras. Dengan Nakhoda yang mencari jalan terbaik agar menjaga lanting bambu tetap stabil melalui jalan yang berliku, deras dan jeramnya kehidupan. Lanting bambu selalu mengapung dan kokoh diterpa batu sungai dan derasnya air.
Oleh karena itulah filosofi Lanting bambu dipadukan dengan masjid, menjadi sebuah perpaduan unik dan kreatif. Lanting sebagai dasar bangunan masjid yang mampu membawa dan mengantarkan manusia dalam mengarungi lika-liku arus kehidupan dan bangunan atas dari lanting adalah masjid sebagai tempat Beribadah, Bersyukur dan Mensucikan Diri, serta sebagai simbol Nakhoda yang mampu membawa dan menuntun manusia kejalan terbaik dan membawa keseimbangan Lanting agar tidak tenggelam dalam kehidupan didunia.
Masuk dalam perencanaan pembangunan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan maka dibuatlah sayembara desain yang diikuti 33 peserta, dan setelah melewati proses penjurian dan penilaian “Studio 5” ditetapkan sebagai pemenangnya.

Dibangun diatas tanah hibah dari masyarakat dengan luas kurang lebih 9.447 M2 Peletakan batu pertama dilakukan oleh paman Birin bersama Tokoh Agama Kabupaten Banjar KH Wildan.
Dalam pelaksanaannya, PT Sinar Cerah Sempurna – PT Maharani Globalindo, KSO yang ditunjuk sebagai kontraktor pembangunan masjid mampu merampungkan pekerjaan selama enam bulan, dengan masa kontrak, 180 hari kalender yaitu dari Juli hingga Desember 2020.

Perlu diketahui sejarah penamaan Masjid yaitu KH Abdul Qadir Hasan diambil dari nama salah seorang tokoh ulama Martapura kelahiran Tunggul Hirang, beliau murid KH Asy’ari dan penyebar NU di Provinsi Kalimantan Selatan.
Masjid yang menawarkan suasana tropis dan alami ini dibangun dua lantai. Peruntukan lantai pertama sebagai tempat wudhu dan toilet serta tempat bersantai sedangkan untuk lantai dua sebagai tempat salat atau peribadatan yang dapat menampung 250 orang Jemaah.
Keunikan lainnya yaitu penggunaan lima tiang penyangga dilantai atas sebagai gambaran dan simbol rukun islam dan jumlah waktu sholat.