Sejarah Masjid


Masjid Bambu KH Abdul Qadir Hasan merupakan masjid pertama di Kalimantan Selatan dengan bahan ornament yang terbuat dari bambu.
Konsep ide pembuatan masjid ini inisiatori oleh Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor atau yang akrab disapa Paman Birin yang terinspirasi dari sebuah masjid tertua di Kalimantan Selatan, masjid yang menjadi symbol peradaban pertama masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan yaitu Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin.

Tidak hanya itu guna menambah keunikan Masjid Bambu pertama di Kalimantan tersebut dipadukan dengan konsep “Balanting Bambu” yaitu andalan wisata arung jeram menggunakan lanting yang terbuat dari bambu di Loksado Hulu Sungai Selatan.
Masuk dalam perencanaan pembangunan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan maka dibuatlah sayembara desain yang diikuti 33 peserta, dan setelah melewati proses penjurian dan penilaian “Studio 5” ditetapkan sebagai pemenangnya.

Dibangun diatas tanah hibah dari masyarakat dengan luas kurang lebih 7.900 M2 Peletakan batu pertama dilakukan oleh paman Birin bersama Tokoh Agama Kabupaten Banjar KH Wildan.
Dalam pelaksanaannya, PT Sinar Cerah Sempurna yang ditunjuk sebagai kontraktor pembangunan masjid mampu merampungkan pekerjaan selama enam bulan, dengan masa kontrak, 180 hari kalender yaitu dari Juli hingga Desember 2020.

Perlu diketahui sejarah penamaan Masjid yaitu KH Abdul Qadir Hasan diambil dari nama salah seorang tokoh ulama Martapura kelahiran Tunggul Hirang, beliau murid KH Asy’ari dan penyebar NU di Provinsi Kalimantan Selatan.
Masjid yang menawarkan suasana tropis dan alami ini dibangun dua lantai. Peruntukan lantai pertama sebagai tempat wudhu dan toilet serta tempat bersantai sedangkan untuk lantai dua sebagai tempat salat atau peribadatan yang dapat menampung 250 orang Jemaah.
Keunikan lainnya yaitu penggunaan lima tiang penyangga dilantai atas sebagai gambaran dan simbol rukun islam dan jumlah waktu sholat.